Chew Kin Wah membagikan perbedaan perfilman indonesia dan malaysia. bagai bumi dan langit.
Автор: INformasi
Загружено: 2026-01-04
Просмотров: 51984
Perfilman Indonesia Malaysia Berbeda. Chew Kin Wah mengaku takjub dengan bahasa indonesia yang digunakan luas dan film yang lebih berani tanpa batasan-batasan konyol seperti di malaysia
—-
Chew Kin Wah membagikan perbedaan perfilman indonesia dan malaysia. bagai bumi dan langit.
—-
Hallo guys, selamat datang di informasi. kali ini kita akan membahas Tentang Chew Kin Wah, aktor Malaysia yang kini semakin aktif di dunia perfilman Indonesia, mengungkapkan pandangannya mengenai perbedaan budaya antara Malaysia dan Indonesia dalam sebuah wawancara dengan sesama warga Malaysia, Chun Wai. Menurut Chew, pengalaman beradaptasi dengan lingkungan Indonesia sangat menarik, terutama dalam hal bahasa dan komedi.
Chew Kin Wah bercerita bahwa ketika dia berada di Jakarta, seolah-olah ada "tombol khusus" yang membuat gaya bicaranya langsung berubah menjadi seperti orang Indonesia. Sebaliknya, begitu ia sampai di Kuala Lumpur International Airport (KLIA), aksennya kembali menjadi seperti orang Malaysia. Hal ini mencerminkan betapa kuatnya pengaruh budaya lokal terhadap cara seseorang berbicara.
Menariknya, Chew mengungkapkan bahwa dalam perannya di Indonesia, terutama saat memerankan karakter dalam film “Cek Toko Sebelah”, dia diharuskan untuk berbicara dengan dialek dan gaya bahasa Indonesia yang berbeda dari film pertamanya di Indonesia, My Stupid Boss, di mana ia berperan sebagai orang Malaysia. Ia mengungkapkan bahwa Ernest Prakasa, sutradara Cek Toko Sebelah, sangat membantu dalam mengajarinya berbahasa Indonesia dengan cara yang lebih sesuai dengan karakter yang diperankannya.
Chew Kin Wah juga menyoroti perbedaan dalam sistem pendidikan bahasa di kedua negara. Di Indonesia, bahasa Indonesia digunakan secara luas, bahkan di kalangan masyarakat keturunan Tionghoa yang ada di sana. Sementara itu, di Malaysia, terutama di sekolah-sekolah Cina dan India, bahasa Melayu sering kali diabaikan, dan sekitar 80% siswa di sekolah tersebut tidak dapat berbicara bahasa Melayu dengan lancar.
Hal ini menjadi perhatian bagi Chew, karena menurutnya, bahasa Indonesia jauh lebih merata digunakan di seluruh masyarakat, sementara di Malaysia, masih ada kesenjangan dalam penggunaan bahasa nasional. Ia mengaku takjub dengan cara orang Indonesia berbahasa Indonesia, yang terasa jauh lebih alami dan menyatu dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu hal yang sangat mencuri perhatian Chew adalah keberanian dalam komedi Indonesia. Ia memberikan contoh dari sebuah adegan dalam film, di mana ada sebuah lelucon tentang seorang bayi yang lahir dan merasa sedih karena terlahir di keluarga yang "sipit" (merujuk pada bentuk mata orang Tionghoa). Meskipun lelucon ini bisa dianggap sensitif di Malaysia, di Indonesia justru bisa diterima dengan tawa. Chew mengatakan bahwa batas toleransi humor di Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan di Malaysia, di mana hal-hal semacam itu bisa dianggap sebagai hal yang sangat sensitif.
Selain itu, Chew juga menyentuh masalah tentang kebijakan pemerintah Malaysia yang membatasi produksi film. Menurutnya, film bukanlah sarana untuk kekerasan atau untuk merusak moral, melainkan sebagai alat budaya yang hidup. "Film itu budaya, film itu hidup," katanya. Dia menegaskan bahwa film dapat menjadi media untuk mengedukasi masyarakat, termasuk anak-anak, tentang nilai-nilai hidup yang baik, bukan untuk membatasi kreativitas.
Chew berpendapat bahwa seharusnya Lembaga Penapisan Film (LPF) di Malaysia tidak terlalu membatasi karya-karya film lokal. Ia juga menyoroti peran pemerintah yang mengirimkan anak-anak Malaysia ke luar negeri untuk melihat budaya lain, namun pada akhirnya banyak yang merasa asing dan cenderung berkumpul dalam komunitasnya sendiri.
Dia mengingatkan bahwa pola pikir masyarakat Malaysia harus berubah. Ia menggunakan pepatah Melayu, "katak dalam tempurung," yang menggambarkan kondisi masyarakat Malaysia yang cenderung terkurung dalam zona nyaman mereka tanpa membuka diri pada dunia luar.
Chew juga memberikan kritik terhadap artis lokal di Malaysia yang terlihat takut untuk berkarier di luar batas. Ia mengingatkan bahwa terlalu nyaman dalam zona nyaman dapat membatasi kesempatan untuk membuka wawasan baru. "Jika terlalu nyaman di zona nyaman, kesempatan untuk berkembang akan hilang," ujarnya.
Menurut Chew, artis Malaysia seharusnya lebih berani untuk menjelajah dan menghadapi tantangan baru, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Dengan demikian, mereka bisa memperluas wawasan dan meningkatkan kualitas seni mereka.
---
Music: Crunchy Leaves by Vlad Gluschenko is licensed under a Creative Commons License.
https://creativecommons.org/licenses/...
Support by RFM - NCM: https://bit.ly/2xGHypM
---
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео mp4
-
Информация по загрузке: