MACAPAT PELOG SLENDRO Part 2
Автор: Drs. Lawan
Загружено: 2025-06-22
Просмотров: 382
@SELAMAT DATANG DI CHANNEL YOU TUBE Nama Link http// / @drslawan . Untuk melihat video lebih banyak lagi. Jangan lupa subscribe like and comment serta nyalakan lonceng notifikasi untuk mendapatkan informasi video terbaru.
EDUKASI CULTURAL TRADISIONAL:
Asal – usul tembang macapat sendiri sampai saat ini masih dalam perdebatan. Masyarakat jawa tengah pada umumnya mengetahui tembang macapat ada sejak masa – masa akhir kerajaan Majapahit dan mulai masuknya Islam di tanah jawa. Pada jaman Walisongo tembang macapat banyak digunakan sebagai media dakwah dalam penyebaran agama Islam di tanah Jawa.
Fase-kehidupan-manusia-berdasarkan-macapat
Berikut ini adalah fase kehidupan manusia dalam falsafah Jawa berdasarkan tembang macapat :
1. Maskumambang (Janin)
Maskumambang merupakan pembuka dalam kelompok tembang macapat, yang berarti menjadi pratanda dimulainya kehidupan manusia di dunia, tembang macapat memberikan gambaran tentang janin dalam kandungan ibu ketika hamil. Arti kata Maskumambang sendiri banyak yang memaknai sebagai emas yang terapung (emas kumambang), juga sering disebut sebagai maskentir (emas yang terhanyut).
2. Mijil (Terlahir)
Tembang Mijil menjadi awal hadirnya manusia di dunia ini, yang berarti seorang anak terlahir dari gua garba Ibu. Kata lain dari mijil dalam bahasa jawa adalah wijil, wiyos, raras, medal, sulastri yang berarti keluar. Macapat Mijil menjadi tembang kedua setelah Maskumambang, tembang macapat maskumambang memiliki makna janin atau jabang bayi yang masih dalam kandungan ibunya.
3. Sinom (Muda)
Dalam bahasa jawa Sinom bisanya digunakan untuk menyebut daun asam yang masih muda, beberapa kalangan mengartikan Sinom sebagai si enom, isih enom (masih muda). Meski berbeda-beda dalam mengartikan, namun pada prinsipnya tetap sama dalam mengintepretasikan kata Sinom yakni tentang sesuatu yang masih muda.
4. Kinanthi (Dipandu)
Kinanthi banyak diyakini berasal dari kata dikanthi – kanthi (diarahkan, dibimbing, atau didampingi). Proses pendampingan anak sebenarnya sudah dilakukan orang tua sejak kecil, namun di usia remaja seorang anak perlu didampingi secara ekstra karena pada usianya ia sudah banyak berinteraksi dengan lingkungan.
5. Asmaradhana (Api Asmara)
Macapat Asmaradana merupakan salah satu tembang yang banyak menggambarkan gejolak asmara yang dialami manusia. Sesuai dengan arti kata, Asmaradana memiliki makna asmara dan dahana yang berarti api asmara.
6. Gambuh (Sepaham/Cocok)
Tembang macapat Gambuh merupakan salah satu tembang yang berisi tentang berbagai ajaran kepada generasi muda, khususnya mengenai bagaimana menjalin hubungan antara manusia satu dengan yang lainnya.
7. Dhandang Gula (Manisnya Kehidupan)
Tembang macapat Dandanggula memiliki makna harapan yang indah, kata dandanggula sendiri dipercaya berasal dari kata gegadhangan yang berarti cita-cita, angan-angan atau harapan, dan dari kata gula yang berarti manis, indah ataupun bahagia.
8. Durma (Mundurnya tata krama)
Tembang macapat Durma merupakan tembang macapat yang menggambarkan kondisi ketika manusia telah menikmati segala kenikmatan dari Tuhan. Dalam banyak kasus, manusia akan mengingat Pencipta-nya saat ia dalam kondisi kesulitan, dan ia akan lupa ketika dalam kondisi kecukupan. Durma bagi beberapa kalangan diartikan sebagai munduring tata krama, (mundurnya etika)..
9. Pangkur (Menarik diri)
Tembang macapat Pangkur bagi orang jawa sering dimaknai sebagai proses mengurangi hawa nafsu dan mungkur dari urusan duniawi. Dalam tahap ini, manusia sudah memasuki usia senja dimana sesorang akan “berkaca” tentang dirinya, tentang masa lalunya, tentang pribadi dan Tuhannya dan lain sebagainya.
10. Megatruh (Sakaratul maut)
Tembang macapat Megatruh merupakan salah satu tembang macapat yang menggambarkan tentang kondisi maunisa di saat sakaratul maut. Kata megatruh sendiri dipercaya berasal dari kata megat/pegat (berpisah) dan ruh, yang artinya berpisahnya antara jiwa dan raga.
11. Pucung (Kematian/dipocong)
Pocung yang biasa diartikan dengan pocong/pengkafanan jenazah. Bagi orang jawa, badan wadag yang telah ditinggalkan oleh ruhnya biasanya akan dirawat dan disucikan sebelum ia dikembalikan dari asalnya yaitu rahim ibu pertiwi (tanah). Jasad akan dimandikan dan dibungkus dengan kain mori putih sebagai lambang kesucian.
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео mp4
-
Информация по загрузке: