Pelegongan SUMAMBANG | Oleh Sanggar Seni Laksmi Semara Bang - Duta Kab. Bangli | PKB 2024
Автор: Wonderful Bali Channel
Загружено: 2024-06-30
Просмотров: 408
Tari Kreasi Pelegongan “Sumambang”
Diambil dari kisah penyalonarangan yaitu kisah balas dendam dari salah satu sisia/murid Walunateng Dirah yang bernama Sumambang. Sumambang menjalankan balas dendamnya dengan menculik anak dari Empu Siwagandhu keturunan dari Empu Baradah. Pedukuhan Lembah Tulis mengalami gerubug/bencana akibat ulah dari Sumambang. Akhirnya diketahuilah oleh Empu Siwagandhu bahwa yang menculik anaknya adalah Sumambang, akibatnya terjadilah pertempuran sengit antara Empu Siwagandhu dan Sumambang. Pertempuran besar antra kebaikan dan kebathilan terus terjadi hingga turunlah Bhatari Dhurga mendamaikan kedua belah pihak dengan menekankan konsep Rwa Bhineda, yaitu konsep tentang suatu perbedaan yang ada di dunia ini untuk menciptakan keharmonisan dan keseimbangan alam semesta. Keharmonisan dan keseimbangan alam semesta tersebut merujuk pada keadilan dan kedamaian kehidupan manusia.
Kedamaian umat manusia dan perdamaian antar sesama manusia menjadi sebuah kebutuhan hakiki setiap insan guna mewujudkan kebahagiaan dalam dirinya. Kita semua sebagai makhluk yang berbudhi (disamping berakal dan bernaluri), hendaknya dapat menciptakan kedamaian dimanapun di seluruh alam semesta ini di tengah segala perbedaan yang sudah menjadi kodrat-Nya. Agama diciptakan Tuhan Yang Maha Kuasa, tiada lain adalah untuk menuntun umat manusia memperoleh kedamaian sejati. Pentingnya menyebarkan perdamaian dengan konsep tata susila. Semua itu memberikan gamabaran bahwa kita memandang perdamaian sebagai perbuatan yang bernilai suci dan relevan deéngan dharma.
Keadilan mengandung makna bahwa setiap orang memiliki hak yang sama, terutama dalam hal kesempatan berusaha, pendidikan, hukum, hidup layak dan lain sebagainya. Keadilan semestinya sebagai panglima dalam kehidupan. Hal ini akan dapat terwujud, apabila keadilan dilaksanakan tanpa harus membedakan klasifikasi dan status sosial. Keadilan sepatutnya dilaksanakan terbebas dari ruang, waktu dan keadaan. Apabila kita maknai keadilan sebagai panglima kehidupan, sungguh hidup ini akan indah sekali, karena penegakan hak asasi manusia benar-benar terwujud.
Penata Tabuh : I Dewa Gede Dharmayasa (Jik Kopang)
Penata Tari : I Nengah Darsana & Ni Putu Arini Eka Yanti
Pembina Iringan : I Nyoman Susila & I Nengah Aditya Tresna Bayu
Pembina tari : Ni Wayan Siska Aprihayanti
Penyaji : Sanggar Seni Laksmi Semara Bang
Penanggung jawab : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Bangli
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео mp4
-
Информация по загрузке: