Anakku Jual Rumahku Lalu Berkata, “Besok Aku Nikah, Rekeningmu Sudah Kukuras Habis”—Dia Tak Tahu...
Автор: Cerita Hati Lansia
Загружено: 2026-01-20
Просмотров: 11209
Putriku menelpon. "Bu, aku akan menikah besok. Aku sudah menguras semua uang dari rekeningmu dan menjual rumahmu itu! Dadah, wanita tua Peot!" Namun aku hanya tersenyum. Anakku yang durhaka itu tidak tahu kalau rumah itu, sebenarnya adalah...
Namaku Nurheti, di usia yang kian senja aku tak pernah membayangkan sesaknya dada ini. rasa sakit itu tak datang dari orang lain, melainkan dari darah dagingku sendiri. entah Tuhan ingin mengujiku, atau memang ada yang salah pada diriku.
hari itu Telepon berdering pelan. Malam sudah hampir jam 8. Hujan baru saja reda. Rumah ini sunyi, hanya suara tetesan air dari talang bocor di belakang. Aku duduk di kursi kayu memijat lutut yang mulai ngilu ketika nama di layar menyala: Ariska. Dadaku langsung terasa berat. Sudah berminggu-minggu anakku itu tidak menghubungi. Biasanya kalau dia menelepon hanya dua alasan: butuh uang atau mau marah-marah.
Kupandangi layar sebentar. Jari-jariku bergetar waktu menekan tombol hijau.
"Halo, Ris," suaraku serak sendiri.
Di seberang sana terdengar suara bising, seperti orang-orang bercakap dan musik pelan. Lalu suara Ariska datar, dingin.
"Ibu lagi ngapain?" Pertanyaan yang seharusnya biasa, tapi dari mulutnya terdengar seperti basa-basi yang malas.
"Ibu di rumah, Nak, di mana lagi? Kenapa, kamu sehat?" tanyaku pelan.
"Aku enggak punya waktu ngobrol lama," ia langsung memotong. "Aku cuma mau kasih tahu sesuatu."
Tanganku spontan menggenggam ujung daster. Ada rasa tidak enak yang merambat naik. "Apa?"
"Besok aku nikah." Suaranya datar tanpa jeda, seolah mengumumkan perubahan jadwal rapat. "Semuanya sudah beres. Gedung, katering, semua."
Untuk beberapa detik, otakku seperti kosong. "Menikah?" ulangku bodoh. "Dengan Adam?"
"Iya, dengan Adam. Tapi bukan itu poinnya." Ariska menghela napas kesal. "Dengar baik-baik. Ya, Bu. Aku enggak mau ulang-ulang."
Aku menelan ludah. Masih ada sisa harapan kecil di dadaku. Mungkin dia akan bilang, "Ibu bisa datang ya," atau "Doakan aku, Bu." Harapan yang terlalu sederhana untuk seorang ibu yang hidupnya hanya berputar pada satu anak.
"Aku sudah tarik semua uang dari rekening Bank Ibu," lanjutnya cepat. "Semuanya sudah aku pakai buat persiapan hidup baru. Dan rumah itu..." Ada jeda pendek seperti ia sengaja menahan, lalu melanjutkan dengan nada puas. "Rumah itu sudah aku jual."
Jantungku berdebar keras, tapi bukan karena kaget. Ini lebih seperti momen ketika sesuatu yang sudah lama kautakutkan akhirnya benar-benar terjadi.
"Kamu jual rumah ini?" Suaraku nyaris berbisik.
Pandanganku berputar menyapu ruang tamu. Sofa lama yang pernah kami bayar cicilan bertahun-tahun. Lemari kayu peninggalan almarhum suamiku. Foto Ariska kecil dengan seragam TK yang masih tergantung bengkok di dinding.
"Iya, aku butuh uang. Lagian rumah itu nanti juga jatuhnya ke aku, kan? Aku cuma mempercepat saja." Di ujung kalimatnya ada tawa pendek yang menyakitkan. "Tenang, Ibu masih boleh tinggal beberapa minggu sebelum pindah. Setelah itu, ya cari tempat sendiri."
Ada hening panjang di telingaku. Suara detak jam dinding terdengar sangat keras. Di perutku ada rasa seperti diiris pelan. Sejak kecil aku sudah membayangkan banyak hal buruk. Aku bayangkan Ariska marah, membentak, lupa pulang, memakiku. Tapi aku tidak pernah benar-benar membayangkan hari ketika dia bisa bicara seperti ini tanpa sedikit pun rasa bersalah.
Saat aku masih mencari kata, suara Ariska kembali terdengar. Kali ini lebih tajam. "Oh, iya. Satu lagi." Ia tertawa kecil, dingin. "Dadah. Wanita tua sialan."
Kata-katanya seperti tamparan langsung ke muka. Tapi anehnya, setelah beberapa detik yang keluar dari mulutku justru tawa. Bukan tawa bahagia, bukan juga tawa gila, hanya suara pendek serak yang keluar begitu saja. Di seberang, ia terdengar risi.
"Ibu ketawa apaan sih?"
Aku menghirup napas dalam-dalam. Ada sesuatu dalam diriku yang tiba-tiba terasa sangat selesai, seperti pintu yang pelan-pelan tertutup.
"Enggak apa-apa, Ris," jawabku pelan. "Selamat ya buat pernikahannya."
"Enggak usah sok baik. Aku cuma enggak mau ribut. Setelah ini, jangan ganggu hidupku lagi. Aku butuh ketenangan," katanya cepat. "Kalau Ibu sudah keluar dari rumah itu, kasih tahu aku. Biar aku urus sisanya sama notaris."
🙏 Kami memohon maaf apabila terdapat kemiripan nama, tempat, atau peristiwa dengan kejadian lain.
📌 Catatan penting: Gambar yang ditampilkan hanya bersifat ilustrasi.
⚠️ Disclaimer: Seluruh cerita dalam video ini adalah fiktif. Setiap kesamaan nama, tokoh, tempat, atau peristiwa adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan. Konten ini tidak bermaksud menyinggung atau merugikan pihak mana pun.
🔔 Jangan lupa untuk subscribe, tekan like, dan aktifkan lonceng notifikasi agar tidak ketinggalan cerita-cerita terbaru.
#kisahnyata #kisahrumahtangga #dramarumahtangga #ceritarumahtangga #ceritakeluarga #kisahkeluarga
Cerita Hati Lansia
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео mp4
-
Информация по загрузке: