Kesaksian Jenderal Witono Soal Penyergapan dan Tewasnya Dul Arief
Автор: Intel Melayu
Загружено: 2025-02-09
Просмотров: 300278
Kesaksian Jenderal Witono Soal Penyergapan dan Tewasnya Dul Arief
Ada sebuah artikel menarik yang diulas di Facebook berdasarkan kesaksian Letjen Witono, mantan Pangdam Siliwangi. Witono saat peristiwa G30S PKI meletus menjabat sebagai Danrem di Kota Cirebon. Dia yang menerima Letkol Untung Syamsuri yang diserahkan Kapten Muhammad Isa Komandan CPM Tegal usai eks Komandan G30S PKI dan Ketua Dewan Revolusi itu tertangkap di Tegal.
Witono pula yang kemudian membawa Letkol Untung ke Bandung, ke Markas Kodam Siliwangi. Lalu dengan pengawalan ketat dibawa ke Jakarta dan diserahkan ke Kostrad. Dalam kesaksiannya, Witono mengungkapkan, sebelum tertangkapnya eks Letkol Untung pada tanggal 11 Oktober 1965, di Cirebon sudah banyak terjadi peristiwa dalam kaitannya dengan “Gerakan 30 September”.
Ketika itu sebenarnya, pasukan TNI yang ada di Cirebon bisa dikatakan kosong karena banyak yang dikerahkan ke perbatasan Malaysia dalam rangka konfrontasi dengan Malaysia. Tapi dengan jumlah pasukan yang terbatas, pasukan TNI di Cirebon berhasil menangkap dan melucuti pasukan Pasopati pendukung G30S PKI yang melarikan diri ke Cirebon dengan menggunakan kereta api.
Ketika itu Kolonel Witono memerintahkan agar mereka eks anggota pasukan Pasopati tidak tidak meneruskan perjalanan. Tapi perintah Kolonel Witono ini tidak mereka patuhi. Mereka memilih meninggalkan kereta yang diperintahkan Witono tidak boleh meneruskan perjalanan dengan ancaman akan hancur karena akan menerjang ranjau-ranjau yang sudah dipasang.
Lettu Dul Arief dan Djahurup pemimpin eks pasukan Pasopati itu ada bersama dengan pasukan yang mencoba melarikan diri itu. Pengejaran pun dilakuan dengan melibatkan pasukan RPKAD, pasukan infanteri Angkatan Darat KKO dan juga dibantu tenaga rakyat.
Akhirnya dua pimpinan pasukan Pasopati itu yakni Dul Arief dan Djahurup bersama beberapa anak buahnya dapat disergap di daerah Salem atau tepatnya di wilayah Bantarkawung Kabupaten Cilacap. Dul Arief disergap oleh pasukan RPKAD dan pasukan TNI lainnya, termasuk KKO. Saat itu jumlah seluruh pasukan pelarian itu kurang lebih seratus delapan puluh orang. Sempat terjadi kontak tembak. Tapi akhirnya, mereka dapat dilumpuhkan. Dul Arief dan Djahurup dikabarkan tewas.
Seperti diketahui, nasib Dul Arief masih jadi misteri. Kemungkinan dia dieksekusi karena disergap dalam sebuah operasi militer. Informasi penyergapan Dul Arief juga sempat disinggung oleh Jenderal Widodo, mantan Pangdam Diponegoro yang kelak jadi Kepala Staf Angkatan Darat di era Soeharto.
Ketika G30S PKI meletus, Widodo yang saat itu masih Kolonel adalah salah satu Asisten di Kodam Diponegoro. Kala itu yang menjadi Pangdam Diponegoro adalah Brigjen Suryosumpeno. Setelah markas Kodam Diponegoro yang sebelumnya dikuasai para perwira pendukung G30S PKI dapat direbut kembali oleh Pangdam Diponegoro, dilakukan upaya untuk mengkonsolidasikan pasukan.
Kolonel Widodo oleh Pangdam Diponegoro ditunjuk jadi pejabat sementara Danrem 072 Yogyakarta menggantikan Kolonel Katamso yang saat itu belum diketahui nasibnya setelah diculik bersama Kepala Staf Kor'em 072 Letkol Sugiono. Dalam buku,"Sejarah TNI AD Kodam VII/Diponegoro Sirnaning Yakso Katon Gapuraning Ratu," yang disusun bagian Sejarah Militer Kodam Diponegoro, Jenderal Widodo sedikit menyinggung soal penyergapan Dul Arief dan anak buahnya.
Menurut keterangan Jenderal Widodo sebelum eks Letnan Satu Dul Arief dan anak buahnya disergap sudah ada informasi intelijen yang masuk. Informasi intelijen itu menyebutkan jika Eks Lettu Dul Arief Komandan pasukan Pasopati G30S PKI itu bersama dengan 40 orang lainnya diketahui sedang berkeliaran di hutan daerah Pemalang. Mereka di hutan tersebut sedang sembunyi dari kejaran tentara setelah berhasil lolos diam-diam di Cirebon. Pasukan pemberontak ini rupanya sedang mencari celah untuk melarikan diri ke wilayah lereng Gunung Merapi dan Merbabu.
Setelah info intelijen tersebut dipastikan kebenarannya, maka segera diperintahkan pasukan gabungan untuk bergerak melakukan penyergapan terhadap eks Letnan Satu Dul Arief dan anak buahnya. Penyergapan terhadap pasukan pemberontak itu dilakukan pada tanggal 5 Desember 1966.
Pasukan penyergap mengutip keterangan Jenderal Widodo yang dimuat dalam buku Sejarah Kodam Diponegoro terdiri dari batalyon "B" atau Batalyon 402, RPKAD dan pasukan dari KKO. Dalam penyergapan ini, Dul Arief dikabarkan tewas. Pun, Djahurup, anak buahnya di Cakrabirawa. Juga dikabarkan tewas.
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео mp4
-
Информация по загрузке: