Aku Sangat Terkejut Melihat Putraku Bersihkan WC Kantor—Mertuanya Tertawa, “Cuma Itu Yang Pantas!”
Автор: Cerita Hati Lansia
Загружено: 2026-01-22
Просмотров: 5642
Aku mengunjungi putraku yang bekerja di perusahaan milik mertuanya. namun, betapa aku sangat terkejut saat melihat putraku sedang membersihkan WC kamar mandi. mertuanya mengejek: "Cuma posisi OB yang pantas untuknya!" Menantuku hanya tersenyum, tapi Putraku menangis ketika melihatku. Lalu aku melangkah keluar dan segera menyusun rencana. besoknya, para bajingan itu berlutut!
Namaku Rumi Winarsih, meski badan ini semakin lemah, tapi sesak di dada selalu coba ku tepis. alih-alih harus pasrah dengan keadaan, tapi aku selalu coba untuk berontak. karena bagiku keadilan selalu kuutamakan dan kuprioritaskan untuk ketenangan hidup ini.
Hari itu aku bangun lebih cepat dari biasa. Jam subuh, aku sudah duduk di meja makan, menatap kotak bekal kosong di depanku. Aku membuka kulkas kecil di rumah kontrakan ini. Ada ayam ungkep sisa semalam, sedikit sayur capcay, dan sambal terasi yang kubuat kemarin. Bukan makanan mahal, tapi Doni suka. Katanya, "Masakan ibu selalu bikin tenang."
Hari ini hari pertama dia bekerja di perusahaan ayah mertuanya, Handoyo Group. Gedung tinggi yang selama ini cuma kulihat di televisi dan majalah. Kupakai blus biru tua dan celana bahan hitam. Rambut *bob*-ku yang sudah banyak uban kususun rapi, tanpa hijab seperti biasa. Tas kain cokelat kusam kuambil dari belakang pintu sambil menata lauk di kotak bekal. Aku membayangkan wajah Doni, anak tunggalku 27 tahun, yang dulu kulihat duduk di ujung ranjang sambil menghitung uang receh buat ongkos kuliah. Sekarang katanya dia diterima sebagai *management trainee*. Istilah yang bagiku masih agak asing, tapi terdengar bagus. Dia tidak tahu aku mau datang hari ini. Aku cuma ingin melihat dia dari jauh, memastikan dia baik-baik saja, lalu pulang. Itu saja niatku.
Perjalanan ke kantor itu terasa panjang. Angkot berganti angkot. Saat turun di depan gedung Handoyo Group, aku otomatis memperlambat langkah. Gedungnya menjulang, dinding kaca mengkilap, orang-orang bersetelan rapi hilir mudik. Aku sempat ragu di depan pintu putar. Apa pantas aku masuk dengan tas kain tua dan sepatu kulit yang sudah retak di ujungnya?
"Numpang tanya, Bu," sapaku ke resepsionis setelah berani melangkah masuk. Perempuan muda dengan seragam elegan itu menatapku dari ujung kepala sampai kaki. "Saya ibu dari karyawan baru, Bu. Namanya Doni Kusuma. Hari ini hari pertama dia masuk. Saya cuma mau titip bekal."
Resepsionis mengetik sesuatu di komputernya lalu mengerutkan kening. "Nama siapa tadi, Bu?"
"Doni Kusuma." Dia menatap layar lagi lalu berkata, "Oh, iya, *Management Trainee*. Ya, tapi di sistem masih belum lengkap pembagiannya. Ibu bisa tunggu di sofa situ dulu, nanti saya tanya bagian HR."
Aku duduk di sofa empuk di lobi. Udara dingin dari pendingin ruangan menusuk kulit. Di tanganku, kotak bekal terasa hangat. Beberapa menit kemudian, resepsionis memanggil seorang *office boy*. Lelaki sekitar 40-an berjaket abu-abu mendekat. "Mas Joni, tolong antar ibu ini ketemu Mas Doni. Itu yang kemarin bantu-bantu di bawah," ujar resepsionis.
"Di bawah?" ulangku pelan.
Office boy itu tersenyum canggung. "Iya, Bu. Ayo ikut saya."
Kami naik lift barang, bukan lift utama. Bau pembersih lantai cukup menyengat. Lift berhenti di lantai yang lebih gelap dan sempit. Banyak pintu bertuliskan: Gudang, Ruang Mesin, dan Toilet Karyawan. Jantungku mulai berdebar tidak enak.
"Doni kerja di sini, Mas?" tanyaku hati-hati.
"Lagi ditempatkan sementara, Bu," jawabnya singkat. "Katanya disuruh belajar dari bawah."
Aku mengikuti dia menyusuri lorong sempit. Di ujung ada deretan toilet karyawan. Satu pintu terbuka. Dari sana terdengar suara gesekan sikat dengan lantai.
"Mas, itu Doni?" tanyaku gemetar.
Office boy itu menoleh lalu mengangguk pelan. "Iya, Bu. Itu Mas Doni."
Aku berdiri di ambang pintu. Doni berjongkok di dekat kloset, memakai sarung tangan karet, memegang sikat WC. Seragam biru tuanya basah di bagian lengan. Ada cipratan air di celananya, wajahnya berkeringat, maskernya diturunkan ke dagu.
"Doni\!" suaraku keluar hampir tanpa sengaja.
Dia menoleh, matanya langsung membesar. "Ibu\!"
Dalam detik itu, beberapa hal terjadi sekaligus. Doni buru-buru berdiri. Sikat WC hampir terjatuh. Aku melihat jelas mata merahnya, garis lelah di wajahnya.
🙏 Kami memohon maaf apabila terdapat kemiripan nama, tempat, atau peristiwa dengan kejadian lain.
📌 Catatan penting: Gambar yang ditampilkan hanya bersifat ilustrasi.
⚠️ Disclaimer: Seluruh cerita dalam video ini adalah fiktif. Setiap kesamaan nama, tokoh, tempat, atau peristiwa adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan. Konten ini tidak bermaksud menyinggung atau merugikan pihak mana pun.
🔔 Jangan lupa untuk subscribe, tekan like, dan aktifkan lonceng notifikasi agar tidak ketinggalan cerita-cerita terbaru.
#kisahnyata #kisahrumahtangga #dramarumahtangga #ceritarumahtangga #ceritakeluarga #kisahkeluarga
Cerita Hati Lansia
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео mp4
-
Информация по загрузке: