Tetanggaku Menggedor Pintu Rumahku Jam 2 Malam, Wajahnya Sangat Pucat dan Panik—Ternyata Menantuku..
Автор: Cerita Hati Lansia
Загружено: 2026-01-12
Просмотров: 1604
Tepat jam 2 malam, tiba-tiba tetanggaku menggedor pintu rumahku. Wajahnya pucat dan sangat panik. Ia berkata, "Ayok ke rumahku sekarang juga! Menantumu ada di sana! dia sedang merencanakan hal buruk untukmu!" Tubuhku seketika gemetar. Aku tak pernah menyangka malam itu sebuah rahasia besar yang tak seharusnya kuk ketahui akhirnya terbongkar.
Namaku Siti Rahayu, tak pernah sekalipun kubayangkan hal-hal yang membuat dadaku sesak akan menghujam sedemikian rupa. terlebih, orang-orang di sekitarku yang melakukannya. malam itu Jam menunjukkan pukul 2 malam ketika ketukan keras di pintu membangunkanku dari tidur. Suara itu begitu panik hingga membuat jantungku berdegup kencang. Aku membuka pintu dan melihat tetanggaku, Ibu Tarsih berdiri dengan wajah pucat dan mata yang terburu-buru. Napasnya tersengal, tangannya gemetar saat menunjuk ke arah rumahnya. "Ikuti aku sekarang. Menantumu ada di rumahku," katanya dengan suara bergetar. Aku terdiam. Tubuhku terasa lemas dan rasa takut tiba-tiba merayap ke seluruh anggota tubuhku. Kata-kata Ibu Tarsih terdengar mustahil. Namun nada paniknya menyiratkan bahwa ini bukanlah kebohongan. Dengan langkah gemetar, aku mengikuti Ibu Tarsih menyusuri jalan setapak yang gelap. Setiap langkah membuat pikiranku kacau. Aku tidak pernah menyangka Andre bisa berada di rumah tetangga pada jam 2 seperti ini. Rasa cemas bercampur dengan ketidakpercayaan. Setibanya di rumah Ibu Tarsih, aku melihat pintu rumahnya terbuka. Dari balik pintu, Andre berdiri, memegang beberapa dokumen dan kunci rumah kami. Wajahnya tampak tenang, hampir dingin. Namun, ada sesuatu dalam tatapannya yang membuatku merasa terancam. Hatiku mencelos. Aku menelan ludah, mencoba bersikap tegar, namun suara bergetar keluar dari bibirku. Apa yang kau lakukan di sini? Mengapa membawa kunci dan dokumen rumahku? Andre menatapku tanpa jawaban langsung. Senyumnya tipis, dingin, dan menimbulkan perasaan tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Malam itu, rasa sakit, ketakutan, dan kemarahan bercampur dalam dadaku. Aku berdiri di depan Andre, merasa lemah, namun sadar bahwa rahasia besar tengah terbongkar. Sesuatu yang tidak pernah ku sangka akan mengubah hidup keluargaku selamanya sedang terjadi di hadapanku. Suasana di ruang tamu Ibu Tarsih terasa tegang dan hening. Napasku berat, pikiran berkecamuk. Aku tidak tahu harus mulai dari mana untuk memahami situasi ini. Andre menunduk sejenak, kemudian menatapku dengan tatapan dingin. "Ibu, jangan campuri urusan ini," ucapnya pelan, tetapi nada suaranya menekan. Ada sesuatu yang tidak ingin ia ungkapkan secara terbuka dan hal itu membuat dadaku semakin sesak. Ibu Tarsih menarik napas panjang dan menatapku dengan cemas. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku melihatnya membawa dokumen dan kunci rumahmu. Aku tidak bisa diam," katanya sambil memegangi tanganku. Tubuhku gemetar antara marah dan takut. Aku mencoba menenangkan diri dan bertanya langsung, "Dokumen apa yang kau bawa? Apa maksud semua ini?" Andre tetap diam. Matanya menatap lurus ke lantai, seolah menunggu aku mengalah. Rasa kecewa mulai menyelimuti hatiku. Perlahan, ia membuka tas kecilnya dan menaruh beberapa lembar kertas di atas meja. Kertas itu tampak resmi, tertulis nama notaris dan alamat rumah kami. Aku meraih dokumen itu dengan tangan gemetar dan membaca cepat isinya. Jantungku nyaris berhenti saat menyadari maksud dokumen itu. . rencana menjual rumah warisan keluarga tanpa sepengetahuanku. Aku menatap Andre, mencari jawaban dalam tatapannya. Andre mengangkat kepala dan menatapku dengan tenang hampir dingin. Ini hanya masalah bisnis. Aku hanya ingin menyelesaikannya cepat," katanya. Kata-katanya seperti pisau menembus hatiku. Rumah yang kami bangun dan jaga selama puluhan tahun kini menjadi taruhan. Aku menahan amarah dan kesedihan, mencoba memahami alasan di balik tindakan Andre. Bisnis, rumah ini bukan sekadar aset, ini warisan keluarga. Kau tidak bisa begitu saja memutuskan sendiri, ucapku tegas. Ia menunduk lagi, menyingkirkan pandangan dariku, diamnya seperti pengakuan tanpa kata-kata. Rasa sakit dan kecewa bersatu membuat tubuhku lemas. Aku merasa dikhianati oleh orang yang selama ini aku percayai." Ibu Tarsih ikut angkat bicara, suaranya gemetar namun tegas. "Ibu, kita tidak bisa membiarkan ini terjadi. Kau harus menghentikannya sebelum semuanya terlambat," katanya.
🙏 Kami memohon maaf apabila terdapat kemiripan nama, tempat, atau peristiwa dengan kejadian lain.
📌 Catatan penting: Gambar yang ditampilkan hanya bersifat ilustrasi.
⚠️ Disclaimer: Seluruh cerita dalam video ini adalah fiktif. Setiap kesamaan nama, tokoh, tempat, atau peristiwa adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan. Konten ini tidak bermaksud menyinggung atau merugikan pihak mana pun.
🔔 Jangan lupa untuk subscribe, tekan like, dan aktifkan lonceng notifikasi agar tidak ketinggalan cerita-cerita terbaru.
#kisahnyata #kisahrumahtangga #dramarumahtangga #ceritarumahtangga #ceritakeluarga #kisahkeluarga
Cerita Hati Lansia
Доступные форматы для скачивания:
Скачать видео mp4
-
Информация по загрузке: